Aplikasi pada Lahan Regosol/Vertisol (Drainase Lambat): Lahan yang memiliki retensi air tinggi menuntut ketepatan waktu tanam dan pemilihan varietas yang adaptif. Kajian menunjukkan bahwa varietas tebu dengan tipe kemasakan awal hingga awal-tengah (seperti varietas PS 881) sangat direkomendasikan. Sementara itu, varietas masak tengah-lambat (seperti Bululawang/BL atau PSDK 923) juga mampu memberikan produktivitas tinggi asalkan didukung oleh zonasi wilayah yang tepat.
Aplikasi pada Lahan Aluvial/Volkanik Masam: Untuk wilayah dengan kendala keasaman tanah, diperlukan varietas spesifik yang memiliki toleransi tinggi terhadap kejenuhan aluminium atau pH rendah agar tanaman tidak mengalami kekerdilan (stunting).
Ketika sinkronisasi ini berhasil diterapkan, peningkatan produktivitas kelayakan panen akan meningkat secara signifikan. Berdasarkan data kesesuaian tersebut, produksi hablur (kristal gula murni) dapat diproduksi secara maksimal. Sebaliknya, jika penanaman dilakukan tanpa acuan peta kesesuaian, vegetasi tebu pada lahan basah akan terus menyerap air secara berlebih, sehingga menurunkan akumulasi kadar kemanisan saat proses penggilingan di pabrik.
Dampak Strategis Pemetaan Berbasis Sains bagi Masyarakat
Kontribusi riset akademis dari kampus ini menegaskan bahwa visualisasi peta digital dan sains tanah memberikan dampak nyata pada ketahanan pangan masyarakat:
Peningkatan Kesejahteraan Petani: Risiko penurunan hasil panen atau anjloknya nilai rendemen akibat ketidaksesuaian varietas dapat dimitigasi sejak tahap perencanaan sebelum bibit ditanam.
Efisiensi Operasional Pabrik Gula: Bahan baku tebu yang masuk ke industri pengolahan memiliki tingkat kemasakan yang seragam, sehingga proses ekstraksi menjadi lebih efisien.
Akselerasi Swasembada Gula Nasional: Optimalisasi pemanfaatan lahan berdasarkan data ilmiah akan mengurangi ketergantungan pada komoditas impor.
Kesimpulan
Melalui survei dan pemetaan tipologi lahan, arah pertanian nasional sedang bertransisi menuju konsep pertanian presisi (precision agriculture) yang berbasis data konkret. Langkah identifikasi karakteristik tanah seperti yang dipelopori oleh riset kami di Prodi Ilmu Tanah UNEJ membuktikan bahwa kemandirian industri gula nasional harus dibangun secara ilmiah dari pemahaman yang mendalam terhadap tanah tempat tanaman itu tumbuh.
Refrensi
Basuki, B., Adib, A. R., Destiawan, H. A., & Sari, V. K. (2025). Land characterization and management in the marine-volcanic area of Mount Semeru, Indonesia: A case study of sugarcane commodities. Journal of Degraded and Mining Lands Management, 12(3), 7765-7778.
Basuki, B., & Sari, V. K. (2024). Specifications of sugar cane varieties based on land characteristic and typology. Jurnal Teknik Pertanian Lampung (Journal of Agricultural Engineering), 13(1), 132-146.
Basuki, B. (2020). Pemetaan tipologi dan kesesuaian varietas tanaman tebu berdasarkan karakteristik lahan dan tanah di Jatiroto Lumajang. Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri, 12(1), 34.